Kubuntu 13.04 64-bit

kubuntu logo
Logo Kubuntu

Beberapa hari lalu Kubuntu 12.04 saya mengalami kendala pada saat booting yang mana tidak bisa melewati plymouth (splash screen). Kemungkinan besar penyebabnya adalah karena X.Org yang tidak sengaja terhapus. Mungkin itu karena saya memasang paket ubuntu-desktop. Saya pikir itu karena konflik antara lightdm dan kdm. Tapi walaupun sudah saya hapus salah satunya dan mencoba memasang X.Org kembali dari tty, tetap saja masalah berlanjut. Akhirnya saya putuskan untuk install ulang saja. Saya hanya punya dua pilihan: Ubuntu 13.10 atau Kubuntu 13.04, semuanya 64-bit. Sebenarnya saya masih ingin pakai yang LTS, tapi semua ISO ada di partisi Ubuntu kecuali dua itu. Setelah saya buat flash disk multi bootable, langsung saya coba keduanya, dan yang bisa di-boot hanya Kubuntu. Ternyata entry GRUB untuk Ubuntu Saucy pada file menu.lst ada yang salah. Tapi ini lebih baik buat saya, karena PC saya tidak support OpenGL yang dipakai Unity. Dan saat saya berhasil mem-boot Live USB Ubuntu Saucy, kinerjanya terasa berat.

Sebelumnya saya sudah pernah mencoba Live USB Kubuntu Raring 64-bit ini sekitar satu bulan setelah dirilis dan itu pertama kalinya saya mencoba sistem 64-bit. Saya terkesan karena performanya bagus dan terasa ringan di desktop saya. Ini mematahkan anggapan saya bahwa KDE lebih berat. Tapi ternyata sekarang anggapan ini berbalik karena adanya Unity yang memaksakan OpenGL difungsikan pada setiap kartu grafis, tidak memandang apakah ia mendukung OpenGL ataukah tidak. Dan pada kenyataannya mobo saya Intel Atom D2700 yang menyediakan GMA 3650 onboard tidak disediakan driver grafis yang mendukung OpenGL 3D. Saya masih berpikir untuk membeli kartu grafis add-on, tapi dengan begitu, bukankah penghematan penggunaan listrik yang saya inginkan menjadi kurang efektif?

Pada Kubuntu Precise, yang memakai kernel 3.2, saya masih bisa menerapkan driver open source untuk GMA 3650 ini. Dan hasilnya pemutaran video lebih responsif dan memakai sedikit sumber daya CPU (kurang dari 30%). Pernah saya mencoba memasang kernel 3.8 yang sudah menerapkan dukungan untuk pemroses grafis berbasis GMA 500 (termasuk punya saya). Ternyata driver open source yang saya pasang tadi konflik dengan kernel yang lebih baru dari 3.2. Sehingga memaksa saya memilih untuk menghapusnya dan mempertahankan kernel 3.8. Tapi waktu itu tampilan monitor jadi aneh, yaitu monitor CRT saya tampak terpotong bagian bawah, hanya tampak 3/4 bagian. Pada pengaturan tampilan layar, pilihan resolusi layar pun hanya ada 1280×768, menganggap monitor saya adalah monitor LCD widescreen. Keadaan ini berlangsung lama sampai saya meng-install Kubuntu Raring.

Sejak mencoba Live USB Kubuntu 13.04 saya jadi lebih suka KDE daripada GNOME apalagi Unity. Tetapi tidak seluruh aplikasi KDE lebih saya andalkan. Rekonq bagus, karena bisa mengintegrasikan Kget sebagai download manager, tapi saya lebih memilih Chrome atau Firefox. Kmail juga bagus karena terintegrasi dengan KDE, tapi dia tidak bisa membuka satu folder yang berisi file MBOX secara lansung seperti Thunderbird, harus satu per satu. Muon Software Center dan Muon Package Manager juga bagus, tapi saya belum terbiasa seperti menggunakan Ubuntu software center atau Synaptic. Tapi lebih mudah memakai Konsole dengan sudo apt-get install.

Aplikasi yang saya andalkan dari KDE antara lain Dolphin, Akregator, Ksnapshot, Amarok, dan Kdenlive. Dolphin lebih responsif daripada Nautilus pada Gnome atau Unity. Tapi saya kurang suka dengan file .directory yang dibuat Dolphin untuk menandai folder. Untuk Akregator, walaupun saya tidak selalu menggunakan feed reader, saya rasa lebih ringan dari Liferea atau yang lain, karena ada di lingkungan KDE. Ksnapshot adalah program yang biasa saya gunakan untuk mengambil screen shot. Untuk Amarok sudah lama saya gunakan walaupun memakai Gnome atau Unity. Dan Kdenlive sudah saya ceritakan pada Keiken #36. Untuk pemutar video, dengan Precise VLC bisa memutar video dengan lancar dan penggunaan CPU normal. Namun pada Raring ini VLC butuh tenaga CPU ekstra untuk memutar video. Makanya sekarang saya lebih memilih SMPlayer yang menggunakan backend Mplayer.

Sebenarnya saya masih belum sreg menggunakan sistem 64-bit. Misalnya saja jumlah aplikasi yang tidak sama banyak dengan yang 32 bit, dan dukungan driver untuk sistem 64 bit yang juga kurang banyak. Tapi perkembangan terus berlanjut, di mana semakin banyak orang menggunakan sistem 64 bit, maka semakin banyak pula dukungan yang tersedia. Jadi dengan begini, saya sudah tidak khawatir lagi menggunakan Kubuntu 64 bit.

Tampilan desktop Kubuntu 13.04

Advertisements

Published by

Badwi

A Muslim, sober, a Javanese

Share your idea here (markdown enabled)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s