Register

Tulisan ini merupakan draf yang saya buat pada 20.12 tahun lalu. Draf yang merupakan sebuah ide saja, berupa judul yang nantinya saya isi dengan tulisan yang panjang.

Saya sebenarnya tahu kata register beberapa waktu sebelum membuat draf tulisan. Nah pada saat membuat draf ini, saya sedang senang-senangnya dengan bahasa Jawa. Saya membanding-bandingkan bahasa Jawa dengan Jepang yang saya anggap mempunyai kemiripan, yaitu adanya register. Apa itu register? Wikipedia punya jawabannya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Laras_bahasa http://en.wikipedia.org/wiki/Register_%28sociolinguistics%29

Tulisan ini saya masukkan dalam jenis `status’ karena tidak mencukupi syarat tulisan yang saya inginkan seperti pada paragraf pertama. Saya harap lain waktu saya bisa memanjangkannya.

Advertisements

Mengurai (Parsing) JSON Qt4 dengan QJson

Yuk belajar kiti lagi, eh maksudnya Qt (dibaca kyut). Pada tulisan terdahulu tentang Graph API Facebook, saya sudah menerapkan pengurai (parser) JSON dengan Qt 5. Kelas yang digunakan antara lain QJsonDocument, QJsonObject dan QJsonValue. Itu semua ternyata baru ada pada Qt 5. Maka jika saya mengompilasinya dengan qmake-qt4, pasti terjadi error.

Sebagai gantinya, untuk mengolah JSON di Qt 4, kita membutuhkan pustaka QJson yang bisa diunduh dari http://qjson.sourceforge.net/. Jika pembaca menggunakan Qt di Windows, maka harus mengompilasi sendiri. Nah, kalau di Linux, terutama Ubuntu, QJson sudah ada di repositori sejak lama. Cukup instal libqjson0 dan libqjson-dev.

Continue reading “Mengurai (Parsing) JSON Qt4 dengan QJson”

Bismillahirrahmanirrahim

Membuat flashdisk bootable ada banyak caranya. Kali ini saya akan berbagi salah satu cara yang saya gunakan sejak beberapa waktu terakhir ini. Maksud dari ‘sekaligus menjadi backup file ISO’ adalah kita hanya perlu menyalin file ISO ke flashdisk tanpa ekstrak atau lainnya. Jadi, kita hanya menyalin seperti file biasa, maka kita bisa menjadikannya backup atau bisa juga membagikan kepada teman. Dan kita bisa menyalin lebih dari satu file ISO ke dalam satu flashdisk. Oleh karena itu, kita bisa menjadikannya multibootable, yaitu kita bisa memilih distro Linux yang akan di-boot nantinya.

Penafian: cara ini hanya berlaku untuk membuat flashdisk bootable bertipe MBR, bukan UEFI. Kemungkinan besar tidak akan bisa digunakan untuk menginstall dual-boot Linux dan Windows 10, misalnya, karena Windows terkini sudah menggunakan boot UEFI di perangkat keras keluaran terkini. Sebenarnya sudah ada aplikasi lain untuk membuat flashdisk bootable yang lebih mudah. Saya menyarankan pembaca untuk menggunakan cara yang lebih efisien saja, daripada mengikuti ego penulis ini. 😀 (diedit 27.10.17)

Grub4Dos merupakan bootloader grub yang dipasang di flashdisk. Untuk menjadikan flashdisk bootable, kita membutuhkan grub4dos installer, unduh dari http://download.gna.org/grubutil/grubinst-1.1-bin-w32-2008-01-01.zip

Dalam file tersebut sudah disediakan bootloader grub versi 1, bukan grub2. Kita memerlukan bootloader Grub4Dos agar flashdisk bisa bootable dengan file ISO ini. Grub menyediakan fitur boot dari file ISO, yang istilahnya di-chainload.

Unduh Grub4Dos dari http://download.gna.org/grub4dos/grub4dos-0.4.4.zip atau  http://code.google.com/p/grub4dos-chenall/downloads/list

Continue reading “Membuat Flashdisk Bootable sekaligus Menjadi Backup File ISO (dan Bisa Multiboot)”

Membuat Flashdisk Bootable sekaligus Menjadi Backup File ISO (dan Bisa Multiboot)

Jadi Ahli Bahasa dengan Kamus Lengkap di Linux

Kali ini saya ingin memerinci tentang aplikasi kamus di Linux, apapun distronya. Ada tiga program yang pernah saya coba, antara lain Stardict, Goldendict dan QStardict. Dua yang terakhir merupakan cabang atau berbasis pada Stardict. Goldendict sudah saya bahas pada tulisan #30.

Stardict

Stardict ini bisa dijalankan di lintas platform, baik MacOS X, Linux maupun Windows. Sudah lama saya tidak menggunakan StarDict, jadi, tidak begitu ingat bagaimana memanfaatkannya. Silakan merujuk pada situs resminya. http://www.stardict.org/ dan https://code.google.com/p/stardict-3/. Kebanyakan distro Linux sudah menyertakannya di repositori. Cukup cari stardict di pusat peranti lunak masing-masing ditro dan install dari sana.

stardict di windows

StarDict di Windows


Continue reading “Jadi Ahli Bahasa dengan Kamus Lengkap di Linux”

Membuat Paket DEB sekaligus Mengunggahnya ke PPA Launchpad

Kali ini saya perlu mendokumentasikan tata cara packaging di Ubuntu. Sebelumnya sudah pernah, sebagaimana saya ceritakan pada tulisan #34, tetapi karena kesombongan, saya hanya mengandalkan ingatan yang mana ingatan itu ternyata tidak abadi. Dengan kata lain, saya sudah lupa.

Packaging di Ubuntu bagi saya yangnoobdan bukan programmer ini terasa rumit dan susah. Tutorial dan dokumentasi tentang packaging memang banyak, tapi dalam bahasa Inggris. Ini yang menjadi kendala lain untuk mempelajarinya. Saya yakin banyak juga ahli di bidang ini di negeri ini yang sudah berpengalaman, namun belum sempat berbagi ilmunya itu, mengingat ada beberapa distro racikan anak negeri, atau mungkin saya saja yang belum mencarinya 😀 . Nah, walaupun saya bukan ahli, setidaknya dan mudah-mudahan bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana proses memaketkan aplikasi untuk Ubuntu sekaligus membuat PPA (Personal Package Archive) di Launchpad.

Continue reading “Membuat Paket DEB sekaligus Mengunggahnya ke PPA Launchpad”

Acang Plasma Mawakit (Plasma Widget Mawakit) di Kubuntu 14.04 Trusty Tahr

Judulnya aneh ya? Saya lupa padanan kata terbaru untuk “widget” selain acang.

Mawakit adalah acang untuk lingkungan desktop KDE yang berguna untuk menampilkan jadwal waktu shalat. Saya mencari-cari PPA-nya tetapi tidak menemukan, sepertinya saya harus bertindak nih 😀 . Sepertinya dulu pernah ada tutorial berbahasa Indonesia yang menerangkan cara kompilasi Mawakit, tetapi sudah tidak ada di Google.

Selain Mawakit, ada aplikasi lain yang juga berguna untuk mengingatkan jadwal shalat, namanya Minbar. Tapi karena Minbar berbasis GTK+, saya lebih memilih Mawakit. Bukannya saya tidak suka GTK+, tapi saya ingin agar aplikasi yang saya install punya integrasi dengan KDE, jadi saya lebih memilih Mawakit. Selain itu, Mawakit tidak perlu autostart, karena merupakan acang plasma yang mana akan dimuat seketika log masuk lingkungan KDE. Continue reading “Acang Plasma Mawakit (Plasma Widget Mawakit) di Kubuntu 14.04 Trusty Tahr”

Jadi ingat beberapa tahun lalu saat Linux merupakan barang yang asing. Ditambah belum merakyatnya internet seperti sekarang ini. Saya pada waktu itu belum memiliki komputer, apalagi internet. Jadi, sebenarnya Windows pun saya belum paham.

Saat pergi ke perpustakaan umum, saya suka membaca buku-buku tentang komputer. Untungnya ada buku langka yang membahas tentang Linux. Dilihat dari nama-nama distribusi Linux yang dibahas, terdengar begitu keren buat saya. Ada Debian, Red Hat, Slackware, Knoppix, dan Mandrake. Itu beberapa yang saya ingat, karena saya belum pernah mencoba salah satunya. Yang paling menarik menurut saya adalah Mandrake Linux.

Karena keadaan internet belum seperti sekarang ini yang mudah dijangkau dan kecepatan yang bagus untuk mengunduh sebuah distro, pada saat itu untuk mendapatkan sebuah distro dengan efektif adalah dengan cara membeli sebuah majalah komputer yang menyertakan bonus CD yang mungkin berisi sebuah distro Linux. Kalau saya sendiri hanya beberapa kali membeli majalah komputer, dan tidak pernah beruntung mendapatkan bonus distro Linux, karena majalah yang saya beli khusus untuk Windows, itu tuh majalah yang itu.

Continue reading “Mageia 4 [Bukan] Review”

Mageia 4 [Bukan] Review