Jenius, isn’t it?

This post is in Bahasa Indonesia. If you’d like to read this post in English, go to the 2nd page of this post.

Ini adalah pos pertama yang menggunakan bahasa Indonesia sejak 3 atau 4 tahun terakhir. Saya sudah cukup konsisten menulis pos dengan menggunakan bahasa Inggris –yang seadanya. Kali ini, saya bukannya ingin mematahkan konsistensi itu. Hanya saja, topik tulisan ini tentang Jenius, “…banking reinvented” dari sebuah bank BUMN, yakni BTPN. Sebenarnya sudah lama mau menulis ulasan tentang Jenius app. Kenapa harus menulis ulasan? Karena ada “hutang moral” darinya. Hahaha… bercanda …tapi serius. Saya mencoba untuk tidak mencontek ulasan dari blog mana pun. Jadi tulisan ini murni pengalaman saya pribadi dalam menggunakan layanannya selama ini.

jenius-account

Laman dasbor akun Jenius menampilkan kuota transaksi gratis antar-bank

Dengan semboyan “Jenius, isn’t it“, digital banking pertama dari sebuah bank besar di Indonesia ini sangat menarik. Mulai dari Jenius itu sendiri sebagai sebuah entitas, nama, logo/ikon, hingga fitur-fitur yang ditawarakannya. Nama “Jenius” dan semboyan tadi cukup membikin saya penasaran, apalagi logonya. Menilik sebuah dari artikel Techinasia1, ternyata perihal nama adalah hasil dari pendekatan yang mereka lakukan dalam menggebrak pakem layanan perbankan dengan smart digital banking yang mereka tawarkan. Sedangkan logonya, ah, suka-suka mereka. Hehe… Memang jenius, kan?

Dari informasi tadi1 juga, dapat kita ketahui bahwa Jenius ini memang sebuah inisiasi resmi BTPN, walaupun di dalam kantornya –yang unik– serasa seperti sebuah start-up atau perusahaan fintech. Saya juga sempat mengira dia ini start-up yang dicaplok oleh BTPN atau entitas terpisah yang hanya numpang infrastruktur perbankan BTPN.

Saya membuka rekening Jenius kira-kira pada awal semester genap tahun lalu. Pembukaan rekeningnya sangat unik, sangat kekinian dan sesuai dengan kultur target pasar mereka: generasi milenial. Ah iya, saya juga termasuk generasi milenial lho. Waktu itu saya hanya bermodalkan ponsel Android dan KTP –serta wajah. Setelah meng-install aplikasinya di ponsel, saya disuruh berswafoto dengan menampakkan KTP di bawah wajah. Kekinian banget kan? Selebihnya saya tidak mengingat.

Singkat kata, permohonan pembukaan rekening saya diterima. Kemudian saya harus menunggu dikirimkannya kartu debit yang nomor kartunya diperlukan untuk aktivasi aplikasi agar bisa digunakan. Pengirimannya cukup lama, kurang lebih dua minggu atau sampai satu bulan –tidak ingat. Pasalnya mereka perlu mengulangi pengiriman itu, yang mungkin karena kesulitan menemukan alamat rumah saya yang di kampung, di daerah pantura Jawa Tengah. Mereka mengantarkan sendiri kelengkapan dokumen rekening tersebut, tanpa jasa kurir. Entah kenapa pada pengiriman pertama, mereka tidak menelepon saya saja seperti pada pengiriman kedua. Saya menduga sebab mereka tidak menemukan alamat rumah saya adalah karena alamatnya kurang jelas (tanpa nomor rumah, blok, dll) atau tidak meyakinkan. Hahaha… ups, saya tidak akan menceritakannya di sini.

Layanan yang berfaedah

Saya tidak begitu ingat dari mana saya –untuk pertama kalinya– mendapatkan info tentang Jenius. Yang jelas, saya membuka rekening saat bekerja di Jogja. Dan waktu itu teman kerja saya juga membuka rekening hampir bersamaan. Tapi pada saat itu, dia mendapatkan kartu debitnya lebih cepat daripada saya, walaupun rumahnya lebih jauh, di pulau Sumatera sana.

Hal yang menarik hati saya untuk mencoba layanan Jenius adalah Visa debit yang mengizinkan pembayaran daring ke luar negeri, dan transfer antar-bank tanpa biaya. Saat itu saya membutuhkan saldo Paypal untuk mengisi credit awal Digitalocean, yang mana saya akan diberi credit gratis $50 dari teman saya tadi. Lebih tepatnya, pacar dia. Lumayan sekali, bisa menghidupi website saya selama 10 bulan dengan asumsi menggunakan droplet termurah di DO. Walaupun sebenarnya niat saya ingin membantu teman saya untuk memanfaatkan credit gratis DO tadi, dengan membuat akun team di DO dengan harapan bisa digunakan bersama. Dia bilang sayang banget kalau tidak terpakai. Sedangkan kendala mereka adalah satu: kartu kredit. Credit DO tersebut hanya akan diperoleh jika mereka terlebih dahulu mengisi saldo credit minimal $5, untuk aktivasi akun DO.

Jadi, bagi saya sendiri, Jenius sangatlah bermanfaat. Saya tidak perlu memiliki kartu kredit untuk pembayaran online. Oleh karena itu, sama masih menggunakannya sampai sekarang. Selain untuk pembayaran online, layanan yang saya manfaatkan adalah transfer antar-bank, dan pernah sekali mencoba membayar tiket kereta api. Untuk transfer uang ke bank lain, nasabah diberikan kuota bebas biaya administrasi sebanyak 25 kali sebulan. Seperti yang terlihat pada gambar di atas, saya masih punya banyak kuota untuk bulan ini. La wong saldonya dikit. Ups…. hahaha.

Konflik

Layaknya hubungan dengan pasangan atau teman, dalam menggunakan app Jenius, saya pernah mengalami masalah dan “drama”. Masalah yang sama seperti pendaftaran awal saya terjadi lagi baru-baru ini. Saya sudah mengajukan pembuatan x-Card (kartu debit fisik tambahan) sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu, tapi sampai sekarang belum juga saya terima. Kali ini masalahnya masih sama, soal alamat. Jadi, saya mengganti alamat korespondensi bukan lagi di kampung halaman yang jauh sana. Saya kira akan lebih memudahkan tim Jenius untuk melakukan delivery ke alamat dalam kota, tetapi ternyata sama saja.

Salahnya saya sih, pengajuan x-Card tersebut saya kirim pertengahan bulan puasa kemarin, atau seminggu sebelum cuti panjang. Saya kira dalam seminggu itu kartu sudah dapat dikirimkan dan saya bisa memanfaatkannya (atau memberikannya kepada seseorang, ehem…) saat mudik lebaran. Saat itu sebenarnya waktu-waktu genting, karena setelah lebaran, saya akan pindah alamat. Dan seperti dugaan saya, hal itu akan menimbulkan masalah. Saya sudah tanya status pengiriman beberapa kali, dan saya minta diubah juga alamat pengiriman, tapi sampai sekarang masih saja belum dikirim. Atau.. entahlah.

Selain masalah riil itu, pernah pula saya komplain soal fitur aplikasi yang “membahayakan” privasi. Pada sebuah pembaruan, tiba-tiba aplikasi meminta permission ke kalender Android. Itu sangat mengganggu saya, karena kalender di akun saya berisi hal-hal yang sangat privat. Saya paham kalau mereka tak mungkin akan membaca isi kalender pengguna satu persatu. Buat apa coba? Tapi, karena saya termasuk pengguna yang paranoid soal privasi, ya… begitulah.

Saat saya komplain langsung ke nomor kontak layanan nasabah, alasan mereka meminta akses ke kalender adalah untuk memberikan pemberitahuan event tertentu. Jadi, aplikasi akan mencoba menambahkan entri acara pada tanggal-tanggal khusus ke kalender kita jika kita memberikan akses. Tapi untungnya Android 6 dan yang lebih baru memiliki pembatasan privasi yang cukup ketat, jadi saya tidak sekali pun memperbolehkan akses ke kalender.

Dan, selang beberapa pembaruan berikutnya, permintaan fitur itu akhirnya dihilangkan. Yaay…!2 Mereka sangat mendengarkan suara wong cilik seperti saya. Terharu akutuh. Hahaha..

Tidak tahu juga sih, kenapa mereka memutuskan untuk menghapus fitur itu. Tidak mungkin juga kalau hanya karena satu komplainan. Dan satu hal inilah yang sebenarnya ingin saya sampaikan pada pos ini. Pos yang berkedok ulasan tentang aplikasi. Hehehe..

Sudah, itu saja. Inti permasalahannya sudah saya sampaikan. Maka saya perlu menutup tulisan ini di sini. Saya tidak perlu menceritakan perihal lamaran kerja saya ke Jenius yang tidak ditanggapi kan? Eh

Advertisements

My Very First Hacktoberfest Experience

Two months earlier, DigitalOcean –collaborated with Github– held the Hacktoberfest event. It’s a month-long celebration of open source software, which was held on October –every year. Every Github user could join the party. If you have account, then the first thing to do was signing up to the event. After that, you must make four pull requests to any Github repositories / projects –preferably which had “hacktoberfest” label in the issue page of repo though. Just it. And then… you are eligible to get swag from DigitalOcean.

By the end of October last year, there were 31,901 completed challenges made by people around the world, including me. And as other people participated the event, I receive the swag. I like it so much. It’s a kind of perfect gift for the new year! I don’t have to thank them, do I? 😀 As I have posted it on both Twitter and Instagram:

Set Up an OpenVPN Server Instantly with DigitalOcean Droplet User Data

OpenVPN is a full-featured open source Secure Socket Layer (SSL) VPN solution that accommodates a wide range of configurations. In this tutorial, we’ll set up an OpenVPN server on a Droplet and then configure access to it from Windows, OS X, iOS and Android. This tutorial will keep the installation and configuration steps as simple as possible for these setups.

Note: OpenVPN can be installed automatically on your Droplet by adding this script to its User Data when launching it. Check out this tutorial to learn more about Droplet User Data.

Setup VPS instance

First thing first, you need to create a Digitalocean account by clicking this link. Complete the registration by providing your payment method, either with credit card or Paypal account.

After you see the green button “Create Droplet”, click on it to proceed to the next step. Type in your preferred Droplet hostname, whatever you want. Then select size of droplet, in this case you’ll choose the pricing which fit you. In my case, I choose the lowest one, $5 /month droplet with 20GB storage and 512MB RAM. It’s kind of enough for me.

Then select the region you want the droplet located. This time, you may want to choose the nearest region from your country. Then select Image, it is the operating system for your VPS. Choose the Ubuntu 14.04 x64.

And finally, tick the “User Data” in the Available Settings section. When the text input appears, enter the script for creating the VPN server. Get the script by referring to the link at the bottom of this post. Find the “Note” section like above quotation. There you’ll find the link to the script. Just copy and paste it.

DO User data

DigitalOcean User data. This is just illustration, and that’s not the script you want.

And in the last section, you may skip that “Add SSH Keys”. Then you will receive the password required to login to the VPS in your email inbox. Check it later.

via How To Set Up an OpenVPN Server on Ubuntu 14.04 | DigitalOcean.