KDEConnect not Working in Fedora 23 KDE

I’ve just successfully connected KDE Connect in my Fedora 23 KDE to Android. Just before, I thought it didn’t work in Plasma 5 or broken in Fedora. Since it could not find the Android devices, although they have KDE Connect app installed. But actually, it’s just blocked by firewall config of Fedora.

According to KDE Wiki, the ports for kde-connect need to be opened, i.e 1714-1764. I’ve never thought that such essential part of the desktop environment would be blocked by firewall. So I had no idea to touch firewall config at all. It was until I found a discussion on Reddit about the same problem I had. A user pointing out about Fedora’s firewall that seems blocking kde-connect. But I could see the ports either TCP or UDP have been opened and listened in the firewall config. But then I found out that kde-connect was unchecked in the Services list.

It means that the firewall didn’t allow kde-connect to access the ports it needs. Then I just had to check it, typed password, and voila… my Android device has been found by kde-connect. So now, I can enjoy syncing Android to KDE and playing some stuffs it has.

References:
1. https://community.kde.org/KDEConnect#Troubleshooting
2. https://www.reddit.com/r/kde/comments/388fo0/kde_connect_fails_to_function/
3. http://www.bakalarczyk.com/posts/kde-connect-fw/

How to flash OpenWRT router

Have a look at this screenshot. It’s my experience when installed OpenWRT system image via command line. I did that way because it’s almost broken and I thought it bricked. But fortunately, it could be connected via SSH, and I reflashed the image with mtd command, after I scp-ed the binary image.

Flashing OpenWRT router from console
Flashing OpenWRT router from console

Google Translate’s New Voice Engine for Bahasa Indonesia

I’ve just noticed that Google has improved its text-to-speech engine for bahasa Indonesia. Actually, it’s not a fresh news, as Google has released it in December last year. Other posts have explained this earlier. [1]

Google Translate
Google Translate improves bahasa Indonesia voice

I always concern about the TTS topic, particularly for bahasa Indonesia. I’ve been writing a post about TTS earlier, too.

[1] http://aguswblog.blogspot.com/2015/01/android-text-to-speech-bahasa-indonesia.html & http://www.androidpolice.com/2014/12/04/google-adds-hindi-indonesian-support-text-speech-engine-apk-download/

Chromium Sudah Support Fonta SIL Graphite kah?

Saya lupa sejak kapan Chromium browser di Ubuntu sudah bisa menampilkan fonta Jawa dengan benar. Entah setelah update sistem, atau setelah instal ekstensi Anvanced Fonts Settings.

Googling tentang release notes Chromium atau mungkin ada yang posting tentang new feature Chromium belum ketemu nih. Cuma nemu yang lumayan menarik: https://code.google.com/p/chromium/issues/detail?id=400334

Distro Linux: Lingkungan Development Web yang Lengkap

Linux sudah terkenal hebat untuk digunakan sebagai server web, kita tahu itu. Sebut saja beberapa distro Linux yang terkenal: Debian, CentOS, bahkan Ubuntu. yang biasanya dipilih sebagai sistem operasi server. Mereka ditopang dengan banyaknya program opensource untuk web yang natif di Linux. Untuk server web sendiri, ada Apache yang sangat umum dipakai, NginX, atau Lighttpd.

Sedikit saja untuk pendahuluannya. FYI, judul draf tulisan ini adalah “Bersyukur sudah tahu Linux”. Saya bersyukur karena di Linux, untuk saya adalah Ubuntu, tersedia perkakas (tools) untuk pengembangan web yang demikian lengkap. Anda bertanya, kan Windows juga bisa seperti itu? OS X juga sama? Hmm, saya jawab: iya. Tapi ya begitu lah. Saya rasa Linux sudah paling pas.

Continue reading Distro Linux: Lingkungan Development Web yang Lengkap

Aplikasi Android dengan Pustaka Qt Framework

Salah satu alasan saya mempelajari pemrograman dengan Qt Framework adalah karena dukungan multiplatform. Sesuai dengan mottonya: “Code less. Create more. Deploy everywhere“. Yang perlu ditekankan adalah deploy everywhere-nya. Walaupun tidak sama seperti Java, Qt masih punya peluang untuk running di Android. Ini dibantu oleh Ministro yang akan mengunduh library Qt untuk Android.

Saya belum menjelajah sampai jauh utuk mencari tahu seberapa potensialnya Qt dipakai untuk mengembangkan aplikasi Android. Tapi jika googling, pasti kita akan menemukan banyak sekali pembahasan mengenai ini. Sejauh ini bisa saya simpulkan bahwa untuk pengembangan aplikasi Android dengan Qt, banyak developer yang lebih memilih QML daripada Qt widget. Bahkan contoh program Ubuntu SDK untuk Ubuntu Touch juga ditulis dalam QML.

Terlepas dari itu, saya kira Java tetaplah yang paling pantas untuk pengembangan aplikasi Android. Google juga menyatakan bahwa kita memang berpeluang untuk menggunakan bahasa C++ tapi jangan karena kita lebih suka dengan C++. Kode natif memang lebih powerful untuk mengakses fitur hardware, tapi akses ke API Android tidak banyak. Oleh karena itu, ada yang menyatakan, jika kita hanya akan sekali saja membuat aplikasi untuk Android, memakai Qt tidak masalah. Tapi jika berencana untuk membuat banyak aplikasi, tentunya Java lebih diutamakan.
Continue reading Aplikasi Android dengan Pustaka Qt Framework