Sambyaku Rokujyuu Go Nichi

I suddenly get reminded of that words –the title. It’s a song by AKB48, entitled 365 nichi no kami hikouki, which means 365 days of paper airplane. And, it’s a soundtrack of a J-Dorama, Asa ga Kita. I rather missed the story, as it’s been a while. Here is the song.

Speaking of which, I also kind of got reminded to write this theme here, on this day. I was rather discouraged for blogging, especially over the past year. Even I ever wanted to abandon this blog. Ya, perhaps this is the last post here.

And also, it’s exactly 365 days passed after I posted about my life changer: Magento. Setting up Magento Local Development in openSUSE. Let this post become a sort of anniversary for it, as well as for a farewell. Cheers!

Advertisements

Momentan ist mein Momentum

Hurra…!! Schließlich ist dies, der erste Beitrag auf Deutsch. Ja, ich versuche diesen Beitrag auf Deutsch zu schreiben. Natürlich benutze ich Google Übersetzer. Das Momentum im Titel, die ich meine, ist tatsächlich „momentum” in Indonesisch1. Ich habe in den letzten paar Monaten in kurzer Zeit viele Erfahrungen gesammelt. Also möchte ich sie hier teilen. Das Wichtigste ist die Lektion, die ich von ihnen gelernt habe.

Continue reading “Momentan ist mein Momentum”

Jenius, isn’t it?

This post is in Bahasa Indonesia. If you’d like to read this post in English, go to the 2nd page of this post.

Ini adalah pos pertama yang menggunakan bahasa Indonesia sejak 3 atau 4 tahun terakhir. Saya sudah cukup konsisten menulis pos dengan menggunakan bahasa Inggris –yang seadanya. Kali ini, saya bukannya ingin mematahkan konsistensi itu. Hanya saja, topik tulisan ini tentang Jenius, “…banking reinvented” dari sebuah bank BUMN, yakni BTPN. Sebenarnya sudah lama mau menulis ulasan tentang Jenius app. Kenapa harus menulis ulasan? Karena ada “hutang moral” darinya. Hahaha… bercanda …tapi serius. Saya mencoba untuk tidak mencontek ulasan dari blog mana pun. Jadi tulisan ini murni pengalaman saya pribadi dalam menggunakan layanannya selama ini.

jenius-account

Laman dasbor akun Jenius menampilkan kuota transaksi gratis antar-bank

Dengan semboyan “Jenius, isn’t it“, digital banking pertama dari sebuah bank besar di Indonesia ini sangat menarik. Mulai dari Jenius itu sendiri sebagai sebuah entitas, nama, logo/ikon, hingga fitur-fitur yang ditawarakannya. Nama “Jenius” dan semboyan tadi cukup membikin saya penasaran, apalagi logonya. Menilik sebuah dari artikel Techinasia1, ternyata perihal nama adalah hasil dari pendekatan yang mereka lakukan dalam menggebrak pakem layanan perbankan dengan smart digital banking yang mereka tawarkan. Sedangkan logonya, ah, suka-suka mereka. Hehe… Memang jenius, kan?

Dari informasi tadi1 juga, dapat kita ketahui bahwa Jenius ini memang sebuah inisiasi resmi BTPN, walaupun di dalam kantornya –yang unik– serasa seperti sebuah start-up atau perusahaan fintech. Saya juga sempat mengira dia ini start-up yang dicaplok oleh BTPN atau entitas terpisah yang hanya numpang infrastruktur perbankan BTPN.

Saya membuka rekening Jenius kira-kira pada awal semester genap tahun lalu. Pembukaan rekeningnya sangat unik, sangat kekinian dan sesuai dengan kultur target pasar mereka: generasi milenial. Ah iya, saya juga termasuk generasi milenial lho. Waktu itu saya hanya bermodalkan ponsel Android dan KTP –serta wajah. Setelah meng-install aplikasinya di ponsel, saya disuruh berswafoto dengan menampakkan KTP di bawah wajah. Kekinian banget kan? Selebihnya saya tidak mengingat.

Singkat kata, permohonan pembukaan rekening saya diterima. Kemudian saya harus menunggu dikirimkannya kartu debit yang nomor kartunya diperlukan untuk aktivasi aplikasi agar bisa digunakan. Pengirimannya cukup lama, kurang lebih dua minggu atau sampai satu bulan –tidak ingat. Pasalnya mereka perlu mengulangi pengiriman itu, yang mungkin karena kesulitan menemukan alamat rumah saya yang di kampung, di daerah pantura Jawa Tengah. Mereka mengantarkan sendiri kelengkapan dokumen rekening tersebut, tanpa jasa kurir. Entah kenapa pada pengiriman pertama, mereka tidak menelepon saya saja seperti pada pengiriman kedua. Saya menduga sebab mereka tidak menemukan alamat rumah saya adalah karena alamatnya kurang jelas (tanpa nomor rumah, blok, dll) atau tidak meyakinkan. Hahaha… ups, saya tidak akan menceritakannya di sini.

Layanan yang berfaedah

Saya tidak begitu ingat dari mana saya –untuk pertama kalinya– mendapatkan info tentang Jenius. Yang jelas, saya membuka rekening saat bekerja di Jogja. Dan waktu itu teman kerja saya juga membuka rekening hampir bersamaan. Tapi pada saat itu, dia mendapatkan kartu debitnya lebih cepat daripada saya, walaupun rumahnya lebih jauh, di pulau Sumatera sana.

Hal yang menarik hati saya untuk mencoba layanan Jenius adalah Visa debit yang mengizinkan pembayaran daring ke luar negeri, dan transfer antar-bank tanpa biaya. Saat itu saya membutuhkan saldo Paypal untuk mengisi credit awal Digitalocean, yang mana saya akan diberi credit gratis $50 dari teman saya tadi. Lebih tepatnya, pacar dia. Lumayan sekali, bisa menghidupi website saya selama 10 bulan dengan asumsi menggunakan droplet termurah di DO. Walaupun sebenarnya niat saya ingin membantu teman saya untuk memanfaatkan credit gratis DO tadi, dengan membuat akun team di DO dengan harapan bisa digunakan bersama. Dia bilang sayang banget kalau tidak terpakai. Sedangkan kendala mereka adalah satu: kartu kredit. Credit DO tersebut hanya akan diperoleh jika mereka terlebih dahulu mengisi saldo credit minimal $5, untuk aktivasi akun DO.

Jadi, bagi saya sendiri, Jenius sangatlah bermanfaat. Saya tidak perlu memiliki kartu kredit untuk pembayaran online. Oleh karena itu, sama masih menggunakannya sampai sekarang. Selain untuk pembayaran online, layanan yang saya manfaatkan adalah transfer antar-bank, dan pernah sekali mencoba membayar tiket kereta api. Untuk transfer uang ke bank lain, nasabah diberikan kuota bebas biaya administrasi sebanyak 25 kali sebulan. Seperti yang terlihat pada gambar di atas, saya masih punya banyak kuota untuk bulan ini. La wong saldonya dikit. Ups…. hahaha.

Konflik

Layaknya hubungan dengan pasangan atau teman, dalam menggunakan app Jenius, saya pernah mengalami masalah dan “drama”. Masalah yang sama seperti pendaftaran awal saya terjadi lagi baru-baru ini. Saya sudah mengajukan pembuatan x-Card (kartu debit fisik tambahan) sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu, tapi sampai sekarang belum juga saya terima. Kali ini masalahnya masih sama, soal alamat. Jadi, saya mengganti alamat korespondensi bukan lagi di kampung halaman yang jauh sana. Saya kira akan lebih memudahkan tim Jenius untuk melakukan delivery ke alamat dalam kota, tetapi ternyata sama saja.

Salahnya saya sih, pengajuan x-Card tersebut saya kirim pertengahan bulan puasa kemarin, atau seminggu sebelum cuti panjang. Saya kira dalam seminggu itu kartu sudah dapat dikirimkan dan saya bisa memanfaatkannya (atau memberikannya kepada seseorang, ehem…) saat mudik lebaran. Saat itu sebenarnya waktu-waktu genting, karena setelah lebaran, saya akan pindah alamat. Dan seperti dugaan saya, hal itu akan menimbulkan masalah. Saya sudah tanya status pengiriman beberapa kali, dan saya minta diubah juga alamat pengiriman, tapi sampai sekarang masih saja belum dikirim. Atau.. entahlah.

Selain masalah riil itu, pernah pula saya komplain soal fitur aplikasi yang “membahayakan” privasi. Pada sebuah pembaruan, tiba-tiba aplikasi meminta permission ke kalender Android. Itu sangat mengganggu saya, karena kalender di akun saya berisi hal-hal yang sangat privat. Saya paham kalau mereka tak mungkin akan membaca isi kalender pengguna satu persatu. Buat apa coba? Tapi, karena saya termasuk pengguna yang paranoid soal privasi, ya… begitulah.

Saat saya komplain langsung ke nomor kontak layanan nasabah, alasan mereka meminta akses ke kalender adalah untuk memberikan pemberitahuan event tertentu. Jadi, aplikasi akan mencoba menambahkan entri acara pada tanggal-tanggal khusus ke kalender kita jika kita memberikan akses. Tapi untungnya Android 6 dan yang lebih baru memiliki pembatasan privasi yang cukup ketat, jadi saya tidak sekali pun memperbolehkan akses ke kalender.

Dan, selang beberapa pembaruan berikutnya, permintaan fitur itu akhirnya dihilangkan. Yaay…!2 Mereka sangat mendengarkan suara wong cilik seperti saya. Terharu akutuh. Hahaha..

Tidak tahu juga sih, kenapa mereka memutuskan untuk menghapus fitur itu. Tidak mungkin juga kalau hanya karena satu komplainan. Dan satu hal inilah yang sebenarnya ingin saya sampaikan pada pos ini. Pos yang berkedok ulasan tentang aplikasi. Hehehe..

Sudah, itu saja. Inti permasalahannya sudah saya sampaikan. Maka saya perlu menutup tulisan ini di sini. Saya tidak perlu menceritakan perihal lamaran kerja saya ke Jenius yang tidak ditanggapi kan? Eh

Mulai dari Nol

That literally means “start from zero”. I don’t know the exact translation in English though. But yeah, hope you get the idea.

It was a subject of an email I receive from my subscription on Dicoding. I haven’t got it exactly what they meant about their story in the email content, to be related to the subject. Except for the idea about everything big is started from zero –if I’m not wrong in understanding it. That includes the journey of their company for past few years. How they started from the very beginning until now that they have achieved some valuable achievements.

In other side, me, is like the antithesis of it. Not to mean that I started from big and now become zero though. For a few years earlier, I sort of have achieved some big things in my life. But it’s likely just my kind of delusion –I don’t know. But, in some cases, at least I have initiated some big decisions to accomplish in past few years –exactly two or three years ago. And there are still many more things that I need to start up from zero, from now. Like, deleting Facebook for instance.

Farewell, mortal world

Yeah, eventually after seven years and thirty three days, I managed to ditch that “social media” from my real life and can live freely. It’s not that easy to do though. I have attempted several times to quit, but I ended up coming back and forth. Until June 14, 2018, the historical day in my life when “my account” completely hidden somewhere in the Facebook server. I don’t say “remove” as someone said that Facebook don’t really remove the user data from their server.

It has no correlation with the recent Cambridge Analytica scandal actually. I’m just fulfilling my 2018 resolution to quit social media gradually. Thus about the leak of user data, I have been aware about the risk for quite long time. But there are more important reasons for me to quit than just worrying my private information that’s non-sense for anybody.

Facebook is rotting. They made the platform no more social media but merely ads media. Hoaxes and hate speeches spread uncontrolled although Facebook keep trying to eradicate them. Moreover, the scariest thing they have is the filter bubble effect. They made sort of dichotomy among users, and made them being more themselves. I mean… you got the idea.

Yeah, I’m just sort of a pathetic human being with a pessimistic thinking about how social media is used. But whatever goodness they offer, I chose quitting them, for good. Farewell.

Hey, wait! I have downloaded my data from their server before I really deleted my Facebook account. You may see how it looks like, but not all actually. I remove most stuffs and let some public items I have posted. I uploaded it to my website as a sort of digital artifact, and maybe it’s useful enough for other people –who knows. Click here to see my downloaded Facebook data.

Trafi: Be a Jakartan Like a Local

A friend of mine told me about a nifty app: Trafi. It provides us complete routes information of public transportation in some big cities, including Jakarta. It helps me a lot as a newbie newcomer in this mega city. And I’m so grateful for my friend who told me that app.

Screenshot_Trafi_1

Realtime position of trans jakarta bus displayed in Trafi route

The information it provides includes the routes and schedules of KRL (Jakarta Commuter Line), Trans Jakarta (busway), Medium buses (Kopaja, Metromini), as well as angkot (angkutan kota / common public transportation). And if –for some reason– there are no route available for your destination, it will return walking route instead.

Screenshot_Trafi_2

Details of route displaying bus stops

The schedule estimation doesn’t always give you the right time. So, don’t expect it tell you the exact time of arrival. Be prepare for the worst thing, and spare some time for your convenient. But, most of the time, it can predict the close departure and arrival time of KRL and Trans Jakarta but not angkot. And it’s handy especially for strangers, newcomers or travelers (and backpackers) who have no acquaintance in this city to traveling to local destination.

Installing KDEConnect Indicator on Budgie Desktop

So, I missed a crucial info in my previous post about the switch of my desktop from KDE to Budgie. The KDE “flavor” that I meant was KDE connect indicator, as well as its context menu in Dolphin file manager to send files to Android. Actually it’s something that retains me to stay loyal using KDE desktop for quite some time. It’s a nifty app for me, as I can get every notification from my phone right away without touching it.

When I decided to move to Budgie, I also looked for similar apps that I used to have in KDE, including this KDE connect. Fortunately, there has been some projects that support KDE connect for Budgie, or Gnome in common. And among them, I chose indicator-kdeconnect applet by Bajoja in Github. (The repo might will move to Gitlab soon 🙂 )

The project has provided install instruction for Fedora. Here is the snippet:

on Fedora:
-> sudo dnf install gtk3-devel
-> sudo dnf install libappindicator-gtk3-devel
-> sudo dnf install cmake
-> sudo dnf install vala-devel
-> sudo dnf install python3-requests-oauthlib
-> sudo dnf install nautilus-python (if you use Nautilus)
            nemo-python (if you use Nemo)
            caja-python (if you use Caja)

Obviously you should install kdeconnect 1.0.0 or up to use the features

compile:
    mkdir build
    cd build
    cmake .. -DCMAKE_INSTALL_PREFIX=/usr
    make
sudo make install

After finishing the compilation process, and running the binary, I got the KDE connect indicator in the panel.

kdeconnect-indicator-building

Compile process of indicator-kdeconnect in Budgie desktop

Of course I have installed the KDE connect binary and made sure it’s running, in order to have the context menu in Dolphin to send files.

kdeconnect-budgie

Android files are displayed in Dolphin

Everything of KDE connect is working fine, including multimedia controller, remote input, as well as copy-paste text into and from device. Although for the latter, I haven’t found the corresponding feature like KDE’s clipper for copied texts in Budgie.